Diupload Oleh: Administrator
Sumber: Tim Humas IAI PC Samarinda
24 Oktober 2025 , 10:39 pagi
Samarinda, 20 Oktober 2025 —
Dalam momentum Kuliah Umum DPD RI/MPR RI yang digelar oleh Fakultas Farmasi
Universitas Mulawarman (Unmul) dalam rangka Dies Natalis ke-11, hadir Ketua Ikatan
Apoteker Indonesia (IAI) Pengurus Cabang Samarinda yang juga merupakan dosen
Fakultas Farmasi Unmul. Kegiatan ini menjadi ajang dialog konstruktif antara
akademisi, organisasi profesi, dan wakil rakyat dari DPD RI untuk membahas
isu-isu strategis di bidang pendidikan dan pekerjaan kefarmasian.
Kegiatan
yang berlangsung di Ruang Theater Fakultas Farmasi Unmul ini menghadirkan Aji
Mirni Mawarni, ST, MM, Anggota DPD RI/MPR RI Perwakilan Kalimantan Timur,
sebagai narasumber utama dengan tema “Peran DPD RI dalam Penguatan Kebijakan
Pendidikan dan Pengembangan SDM Farmasi di Indonesia.”
Dalam sesi diskusi, Apoteker
Wisnu (Ketua IAI PC Samarinda) menyoroti bahwa ketimpangan kualitas pendidikan
dasar (SD, SMP, dan SMA) di berbagai wilayah Kalimantan Timur berdampak pada
rendahnya kualitas input mahasiswa di perguruan tinggi, termasuk di Samarinda. “Kualitas
pendidikan dasar yang belum merata membuat perguruan tinggi di daerah sulit
menghasilkan lulusan unggul dan memperoleh akreditasi terbaik,” jelas Ketua IAI
Samarinda. Menanggapi
hal itu, Aji Mirni Mawarni mengakui kondisi tersebut sebagai tantangan besar
yang tidak hanya terbatas pada sektor pendidikan, tetapi juga menyentuh aspek
mendasar seperti akses jalan, air bersih, listrik, dan ketersediaan tenaga
pengajar di daerah-daerah terpencil.
Diskusi berlanjut pada isu pemerataan
tenaga kesehatan, khususnya tenaga kefarmasian. Ketua IAI PC Samarinda
menyampaikan bahwa meskipun secara nasional kebutuhan tenaga kesehatan
diproyeksikan baru akan tercukupi sepenuhnya pada tahun 2034, di lapangan masih
terjadi ketimpangan distribusi. Sebagian besar tenaga kesehatan, termasuk
apoteker dan tenaga teknis kefarmasian, masih terkonsentrasi di kota-kota besar
seperti Samarinda dan Balikpapan, sementara banyak daerah lain di Kalimantan
Timur masih mengalami kekurangan tenaga farmasi. Sebagai contoh, Ketua IAI
menyoroti program nasional Apotek Plasma dalam Koperasi Merah Putih, yang
merupakan bagian dari program strategis Presiden RI. Ia menegaskan bahwa
program tersebut sangat potensial dalam memperluas akses layanan kefarmasian di
daerah, namun harus diawasi dengan ketat dan dijalankan oleh tenaga profesional
apoteker agar mutu, keamanan, dan khasiat obat bagi masyarakat tetap terjamin. Fakultas
Farmasi Universitas Mulawarman setiap semester meluluskan sekitar 100 apoteker
dan setiap tahun sekitar 80 tenaga teknis kefarmasian, sebagian besar merupakan
putra-putri daerah Kalimantan Timur yang siap bekerja dan ditempatkan di
wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) untuk mendukung pemerataan
layanan kesehatan. Ketua IAI Samarinda juga menegaskan bahwa IAI dan Fakultas
Farmasi Unmul berkomitmen untuk selalu berkolaborasi dengan pemerintah dalam
memastikan pelaksanaan program yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat
berjalan aman, bermutu, dan sesuai kompetensi profesi farmasi. “Niat
baik untuk meningkatkan kesejahteraan sangat bagus, tetapi harus tetap
memperhatikan keselamatan, kualitas, dan khasiat dalam praktik kefarmasian.
Kami siap mendampingi pemerintah mewujudkan Asta Cita Presiden RI menuju
generasi emas 2045,” ujarnya.

Dekan Fakultas Farmasi Unmul juga
turut menyoroti isu aktual mengenai MBG (Makan Bergizi Gratis) yang banyak
ditanyakan oleh mahasiswa. Ia menilai bahwa aspek seperti keandalan,
higienisitas, kapasitas produksi, serta pengawasan vendor MBG perlu dievaluasi
lebih dalam dan melibatkan tenaga ahli agar pelaksanaan di lapangan tetap
terjamin dari sisi mutu dan keamanan. Namun, Dekan juga menekankan sisi
positifnya: program ini menjadi momentum penting bagi sinergi antara
pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam memperkuat ketahanan gizi nasional.
“Kami melihat program MBG tidak hanya memberi manfaat kesehatan bagi
masyarakat, tetapi juga membuka ruang kolaborasi lintas sektor. Fakultas
Farmasi siap berkontribusi dalam aspek pengawasan, riset, dan edukasi agar
implementasi program ini berjalan optimal dan berkelanjutan,” jelasnya. Menanggapi
hal tersebut, Aji Mirni Mawarni menilai bahwa meskipun ada tantangan teknis, tingkat
kebermanfaatan program MBG di Kalimantan Timur jauh lebih besar dibandingkan
kendalanya. “Tingkat kepuasan masyarakat di Kalimantan Timur terhadap program
ini sangat tinggi. Karena itu, kami berharap semua pihak, termasuk akademisi
dan tenaga kesehatan, memberikan dukungan penuh agar program ini berjalan
maksimal,” ungkapnya.
Kehadiran DPD RI di tengah masa
reses menjadi ruang penting untuk menyerap aspirasi akademisi dan tenaga
profesional di bidang kefarmasian. Diskusi yang terbuka dan solutif ini
menunjukkan semangat bersama antara DPD RI, IAI Samarinda, dan Fakultas Farmasi
Unmul dalam memperjuangkan pemerataan pendidikan, penguatan SDM, dan pelayanan
kesehatan yang berkualitas di Kalimantan Timur. Dengan semangat kolaborasi dan
komitmen bersama, seluruh pihak berharap upaya ini menjadi bagian nyata dari
kontribusi dunia pendidikan dan profesi kefarmasian dalam mendukung pembangunan
kesehatan nasional menuju Generasi Emas 2045.